ESSAY PENDIDIKAN

PAGAR BUDAYA SISTEM KREATIF PENDIDIKAN KARAKTER
Oleh 

Nurkhasanah
FITK, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2017

Perubahan kurikulum KTSP menjadi Kurikulum 2013 berhasil di uji cobakan dan diterapkan pada tahun 2015 semester ganjil, hal ini memiliki banyak kontroversi dari berbagai pihak dengan dominasi komentar pada sistem sentralisasi yang dianut kurikulum saat ini. Sentralisasi yang dimaksud adalah UN dijadikan sebagai tolok ukur keberhasilan suatu pendidikan, karena kompetensi lulusan peserta didik dibuat berdasarkan standar yang sama tanpa perduli bagaimana terbentuk potensi peserta didik ditiap kelebihan provinsi dan wilayahnya.
Hasil pendidikan dengan kurikulum 2013 yang terpusat yaitu tidak menitikberatkan pada bobot ajar pancasila atau kewarganegaraan, bahkan sedikit melibatkan guru sebagai sumber belajar selain buku, guru sebagai tukang atau pelaksana sehingga peran (kompetensi) tidak menjadi tolok dalam menyampaikan pengetahuan hingga ini menjadi salah satu yang sentral dalam pendidikan. 
Perlunya suatu sistem yang terstruktur merupakan definisi dari kurikulum, namun sistem tersebut disasarkan untuk anak bangsa sehingga dibutuhkan dinamisasi dalam praktik. Praktik dijalankan oleh masing-masing provinsi dengan puluhan ribu budaya, sifat, dan karakter bangsa, alhasil terciptanya 18 karakter bangsa yaitu; religious, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. 
Karakter di atas diciptakan untuk menstandarkan keberhasilan suatu bangsa dan meyakini bahwa bangsa ini akan diestafetkan kepada anak yang sedang menjalankan pendidikan. Hal ini menjadi bahan timbang bagi pembuat kebijakan pusat maupun daerah, praktisi dan pengawas pendidikan, bahwa karakter akan membentuk potensi peserta didik yang secara langsung dan tidak langsung terjadi pada muatan individu dan secara fungsional dapat diadaptasikan kepada peserta didik. 
Berdasarkan fenomena tersebut akan terbentuk sistem kreatif dalam pendidikan karena peserta didik mengetahui bagaimana mengembangkan minat dan bakat sejak sekolah dasar dengan kurikulum yang terintegrasi dengan semua unsur. Sistem pendidikan tidak perlu diubah namun dibubuhi dengan pelaku pendidik yang baik dan management sekolah memiliki peran dalam proses transformasi ilmu dengan membentuk konsep pagar budaya dengan belajar mengajar yang mengedepankan Cooperation (Kerjasama) bukan Competition (Kompetisi). Dengan demikian pagar budaya membentuk self-conception dengan perangkat sekolah menjadi rangkaiaan potensi dengan membuat program tambahan tanpa membebani peserta didik seperti study banding, penelitian, wisata alam, dan dilakukan secara rutin sehingga membentuk suatu pembiasaan tanpa mengurangi beban mengajar justru membantu mengkonsep pada diri peserta didik. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KONSEP DASAR PEMBIAYAAN PENDIDIKAN

DEBAT POSISI KONTRA "KORUPSI PADA SEKTOR PENDIDIKAN"